BIOPSIKOLOGI PUASA: HIKMAH PUASA DALAM PROSES AUTOFAGI

NEW DELHI : NOBEL PRIZE FOR MEDICINE. PTI GRAPHICS(PTI10_3_2016_000140B)

Hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran tahun 2016 lalu diberikan pada ilmuwan asal Jepang, Yoshinori Ohsumi yang menemukan mekanisme autophagy (autofagi). Autofagi berasal dari bahasa Yunani, yaitu: auto (sendiri) dan phagein (memakan) sehingga secara etimologis, ia berarti “memakan diri sendiri”. Dalam khazanah biologi sel, autofagi berkenaan dengan bagaimana sel-sel ternyata dapat memakan dirinya sendiri dalam rangka menghancurkan dan mendaur ulang komponen-komponennya. Autofagi adalah mekanisme pembongkaran bagian-bagian sel yang sudah tua (seperti organel-organel sel, protein, dan membran sel) yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup energi untuk mempertahankannya.

NEW DELHI : NOBEL PRIZE FOR MEDICINE. PTI GRAPHICS(PTI10_3_2016_000140B)

Sel yang bisa memakan dirinya sendiri mungkin kedengarannya kejam bagi kita yang masih awam, tetapi di balik itu ada hikmah penciptaan yang luar biasa. Sel-sel tubuh memang diprogram oleh Allah Swt secara alami untuk hancur dan mati demi memelihara kesehatan kita. Jika diibaratkan, sel-sel tubuh itu seperti motor tua. Ketika masih baru, ia begitu prima, tetapi lama-kelamaan mesin-mesinnya menjadi tua dan akhirnya ia tidak bisa dikendarai lagi. Logisnya, apa yang kita lakukan adalah memutuskan menjual saja motor itu ke tukang loak. Uangnya bisa untuk membeli motor baru, sementara di tukang loak, motor itu akan dibongkar dan dicari bagian-bagiannya yang kiranya masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lain.

Seperti itulah autofagi, hanya saja pembongkaran dan daur ulangnya terjadi di level sub-selular. Ketika sel menua, tubuh kita tidak serta-merta mengganti keseluruhannya. Ketimbang membunuh seluruh sel (apoptosis), yang dilakukan tubuh hanyalah mengganti bagian-bagiannya yang rusak saja dan kemudian dibuat organel yang baru untuk menggantikannya. [1][2][3]

Setelah mengetahui cukup banyak tentang apa itu autofagi, pembaca sekalian mungkin mulai bertanya-tanya, apa kaitan mekanisme autofagi ini dengan ibadah puasa yang dijalankan umat Islam selama bulan Ramadan ini? Dan, apa pula relevansinya ini dengan ilmu psikologi yang kita geluti? Jawabannya, autofagi sangat berkaitan dengan puasa kita dan sangat relevan dengan psikologi. Untuk mendapatkan penjelasan lengkapnya, berikut ini kita selidiki lebih detail bagaimana autofagi dapat mendorong kesehatan dan mencegah penyakit dengan puasa sebagai aktivatornya.

Autofagi, Kesehatan, dan Penyakit

Autofagi sangat penting bagi kelangsungan hidup sel dan menjaga sel tetap sehat. Tanpa autofagi, sel-sel tubuh manusia tidak akan bertahan. Autofagi ibarat sistem pembuangan limbah dalam sel, yang tanpanya sampah-sampah akan menumpuk dan mengganggu keberfungsian sel-sel itu. Ini sama seperti jika lingkungan tempat tinggal kita tidak memiliki sistem pembuangan sampah. Sampah jadi ada di mana-mana, mengganggu pemandangan, dan menjadi sumber penyakit.

Lewat pembersihan diri di tingkat sel, autofagi memainkan peran penting dalam pemeliharaan kesehatan tubuh keseluruhan. Berbagai riset membuktikan bahwa autofagi berperan menekan pertumbuhan sel tumor. [3] Riset yang masih berlangsung pun terus menyelidiki bagaimana gangguan atau disfungsi autofagi berkaitan dengan kemunculan kanker, diabetes tipe 2, penyakit-penyakit infeks virus dan bakteri, penyakit-penyakit imunologis (disebabkan oleh penurunan imunitas tubuh), dan penyakit-penyakit neurodegeneratif (disebabkan oleh penurunan fungsi sel saraf) karena proses penuaan, seperti Parkinson dan Alzheimer. [2][3]

Uniknya, autofagi tidak terjadi ketika sel ‘kenyang’ karena banyaknya pasokan nutrien, melainkan ketika ia ‘kelaparan’. Autofagi adalah respon adaptasi sel ketika mengalami stres berupa ‘lapar’. [4] Ketika sel-sel lapar, mereka mengkonsumsi protein-protein yang ada pada diri mereka sendiri untuk mendapatkan bahan bakar untuk energi terus hidup. Protein-protein yang dimakan ini adalah protein-protein dari organ-organ sel yang telah rusak. Dari proses itulah, autofagi mengeliminasi bagian-bagian sel yang rusak dengan hasil akhirnya, sel berkesempatan memperbarui dirinya sendiri dengan membentuk bagian-bagian yang baru. Ini ibarat ketika kita hendak membeli kursi baru untuk mengganti kursi lama di ruang tamu, kursi yang lama perlu disingkirkan dulu agar yang baru punya tempat. Dengan autofagi, homeostatis atau keseimbangan dalam tubuh sel dapat tetap terjaga. [2][3][4]

Selain itu, autofagi juga adalah respon pertahanan sel dari serbuan virus-virus dan bakteri ketika terjadi infeksi. Autofagi menghindarkan sel dari bahaya mikroorganisme asing dengan mengirim virus dan bakteri itu untuk didaur ulang dan mengeliminasinya. Dengan ini, autofagi pun menjadi kunci pengendalian perkembangan penyakit infeksi dalam tubuh. [1][4]

autophagy

Ilustrasi Autofagi Sumber: martinajohansson.se

Puasa Mengaktivasi Autofagi

Sejak mekanisme autofagi ditemukan, mempercepat autofagi pun mulai menjadi metode pencegahan dan penyembuhan berbagai penyakit. Aktivasi autofagi dapat dilakukan dengan mengurangi nutrisi yang diterima sel dengan cara tidak makan alias puasa.

Ketika seseorang makan, hormon insulin yang mengatur metabolisme karbohidrat dalam tubuh akan meningkat, sementara glukagon menurun. Ketika ia berpuasa, yang sebaliknya yang terjadi; insulin menurun, sementara glukagon yang berfungsi meningkatkan kadar gula darah meningkat. Peningkatan glukagon inilah yang menstimulasi proses autofagi yang membersihkan sel dari organ-organnya yang rusak. Sementara itu, apa yang bisa mematikan proses autofagi? Makan. Pasokan gula dan protein yang berlebihan membuat pembersihan diri terhambat. Hal ini terbukti, misalnya pada tubuh penderita penyakit Alzheimer dan kanker, terdapat akumulasi atau penumpukan protein abnormal yang lama tidak dibersihkan. Jika autofagi berlangsung dengan normal, maka penumpukan ini tidak terjadi dan seseorang pun dapat tercegah dari penyakit-penyakit tersebut. [5]

Meski tidak makan dan lapar penting bagi kelangsungan proses autofagi, ada hal yang harus diperhatikan. Autofagi adalah proses yang diatur dengan sangat hati-hati oleh tubuh. Autofagi yang tak terkontrol dan berlangsung berlebihan karena seseorang lapar berkepanjangan (misal karena diet yang terlalu ketat atau tidak makan sama sekali) sama buruknya dengan autofagi yang melemah karena kenyang berkepanjangan (karena terus-menerus makan dan mengkonsumsi pangan tinggi karbohidrat dan protein). [5]

Hidup ini soal keseimbangan, autofagi pun demikian. Tidak boleh kekurangan, tidak boleh kebanyakan. Para dokter di Barat, berdasarkan pengetahuan ini kini menyarankan agar orang-orang yang ingin sehat dengan sekali-kali melewatkan makan (skipping meal) atau berpuasa secara berselang hari (intermitten fasting). Ini tidak hanya meningkatkan proses autofagi, tetapi juga meningkatkan fungsi kognitif yang membuat seseorang lebih mudah belajar, serta banyak manfaat lainnya. [6] Dokter-dokter tersebut pun mensyariatkan (baca: menggariskan pedoman), berpuasa versi mereka sebagai bagian dari program detoks, yakni sekali atau dua kali seminggu dengan lama waktu 12-36 jam meninggalkan makan dan bersamaan dengan itu mengkonsumsi banyak air putih. [7]

puasa

Hikmah Ibadah Puasa

Berpuasa adalah salah satu rukun Islam yang telah diketahui luas hikmah dan manfaatnya baik lewat dalil-dalil naqli maupun riset-riset ilmiah. Sebagai salah satu ibadah yang sangat jelas syariatnya dalam agama, puasa telah dilakukan oleh umat Islam sejak waktu yang sangat lama, bahkan sebelum ilmu pengetahuan mengungkap hikmah-hikmah kesehatan puasa. Lewat berbagai penelitian yang panjang dan intensif, kini kita semakin menyadari tingginya nilai ibadah puasa terutama bagi kesehatan badan. Berdasarkan itu, benarlah apa yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad Saw, “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” (HR Thabrani) Hal ini tentu semakin memperkuat keyakinan kita kepada agama kita dan meningkatkan motivasi kita untuk memelihara puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Penelitian biologi sel mengungkap manfaat puasa lewat penyelidikan tentang apa yang terjadi pada tubuh manusia sampai ke tingkat sel ketika ia kekurangan nutrien karena tidak makan atau berpuasa. Lewat mekanisme autofagi, sel membersihkan dan memperbarui dirinya sendiri, serta melindungi dirinya dari serbuan virus dan bakteri yang bisa menimbulkan infeksi. Meski begitu, autofagi yang optimal adalah yang tidak terjadi secara ekstrem. Artinya, seseorang tidak boleh kelaparan atau sama sekali tidak makan sehingga proses autofaginya berlebihan tidak terkendali, tidak boleh pula terlalu banyak dan selalu kenyang sehingga mematikan proses autofagi.

Temuan tersebut mendukung ketepatan ajaran atau syariat Islam terkait bagaimana berpuasa yang benar, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist larangan berlebih-lebihan dalam ibadah, termasuk puasa:

Beberapa orang dari para sahabat datang ke rumah Rasulullah Saw menanyakan kepada istri beliau tentang ibadah beliau. … Salah seorang di antara mereka mengatakan, “Aku bertekad akan melakukan shalat selamanya.” Seorang yang lain menyahut, “Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka.” Seorang lainnya menyambung, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Lalu Rasul datang, “Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka. Aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk di antara umatku.”(HR Bukhari)

Temuan autofagi mencerahkan kita tentang biopsikologi puasa dan perannya mencegah penyakit-penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif, penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan memproses informasi, serta mempengaruhi perilaku, terutama pada lansia. Inilah yang menjadikan puasa alternatif terapi yang sangat baik untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut.

Meski demikian, ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam menyikapi temuan tentang hubungan autofagi, kesehatan tubuh, dan puasa tersebut.

Pertama, perbandingan puasa yang ‘disyariatkan’ dokter di Barat berdasarkan fakta ilmiah tersebut (12-36 jam tanpa makan, dan bersama itu perbanyak minum air) dan puasa dalam Islam (menahan makan, minum, dan semua yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, hanya sekitar 8-21 jam per harinya di negara-negara di seluruh dunia). Hal yang membedakan, puasa yang disyariatkan Islam lebih ringan, bisa dilakukan semua orang di mana saja termasuk anak-anak yang masih belajar puasa, dan tidak mengganggu aktivitas kehidupan yang lain.

Kedua, di Barat terutama, puasa dipromosikan sebagai bagian dari terapi kesehatan sehingga yang melakukannya hanyalah orang-orang yang takut sakit atau ingin sembuh dari sakit. Hal-hal hanya berfokus di seputar kesejahteraan fisik diri sendiri (self-centric) dan tidak memiliki nilai yang lebih dari itu. Dalam Islam, puasa tidak hanya menyangkut persoalan fisik, lapar dan haus karena tidak makan dan minum. Puasa adalah ibadah berpahala yang kebaikannya meliputi dimensi kehidupan yang sangat luas, baik fisik/ material, sosial, psikologis, maupun spiritual. Seseorang bahkan dikecam jika puasanya hanya mendapatkan haus dan lapar.

Pengendalian diri yang dikehendaki ketika beribadah puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan dorongan nafsu dan menjaga keseluruhan amal perbuatan. Ibadah puasa lantas adalah instrumen yang tidak hanya berguna untuk menyehatkan fisik, tetapi juga menyehatkan hubungan dengan sesama manusia dan menyehatkan ruhani. Semoga kita senantiasa mendapatkan kebaikan yang sempurna dari ibadah puasa yang kita lakukan.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi

[1] Woollaston, V. (2016, Oktober). How autophagy could lead to a cure for cancer and spell the end or diabeteshttp://www.wired.co.uk/article/autophagy-cells-explained.

[2] Sedwick, C. (2012). Yoshinori Ohsumi: Autophagy from beginning to end. Journal of Cell Biology, 192(2), 164-165. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3328387/

[3] Van Noorden, R., & Ledford, H. (2016). Medical award for cell recycling. Nature, 538, 18-19. doi: 10.1038/nature.2016.20721

[4] Larsson, N-G., & Masucci, M. G. (2016). Scientific background discoveries of mechanisms for autophagyhttps://www.nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/2016/advanced-medicineprize2016.pdf

[5] Fung, J. (2016). How to renew your body: Fasting and autophagyhttps://www.dietdoctor.com/renew-body-fasting-autophagy

[6] Stipp, D. (2013). How intermittent fasting might help you live a longer and healthier lifehttps://www.scientificamerican.com/article/how-intermittent-fasting-might-help-you-live-longer-healthier-life/

[7] English, N. (2016). Autophagy: The real way to cleanse your bodyhttps://greatist.com/live/autophagy-fasting-exercise

Penulis Aftina Nurul Husna, dosen muda di Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Magelang. Email: [email protected]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *