BAKTI SOSIAL PEKAN PSIKOLOGI #2

Pekan Psikologi #2 kali ini juga mengadakan bakti sosial di panti asuhan Daarul Hikmah yang beralamat di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah yang dilaksanakan pada hari Minggu, 9 Februari 2020. Panti asuhan Daarul Hikmah yang dipilih yang berisikan anak-anak lelaki semua. Bakti sosial ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa/i pada masyarakat sekitar. Bakti sosial diisi dengan sambutan dari pengurus panti Daarul Hikmah dan ketua HIMAPSI. Dilanjutkan dengan penyerahan bantuan berupa sembako, alat tulis, dan baju.

bs1bs2

 

 

 

 

 

 

Untuk memeriahkan acara bakti sosial ini disematkan game dan doorprize agar semakin seru. Antusias anak-anak yang tinggi dalam mengikuti game membuat pengurus HIMAPSI senang karena dapat memberikan sedikit kebahagiaan untuk anak-anak yang berada di panti asuhan. Game yang diberikan juga melatih kerjasama, ketelitian, konsentrasi, pemecahan masalah, dan kesabaran. Sehingga game ini secara tidak langsung memberikan manfaat bagi anak-anak panti asuhan.

bs3bs4

 

 

 

 

 

 

Bakti sosial ditutup dengan doa’a bersama dan foto bersama dengan anak-anak panti asuhan Daarul Hikmah.

LOMBA PEKAN PSIKOLOGI #2

Pekan Psikologi #2 kali ini memiliki serangkaian acara yang salah satunya adalah lomba. Lomba ini diadakan di Aula Fikes Universitas Muhammadiyah Magelang pada hari Sabtu, 8 Februari 2020. Lomba diikuti oleh siswa/siswi SMA/SMK/MA Se-derajat Se-Pulau Jawa. Lomba pada Pekan Psikologi #2 kali ini terdiri dari lomba akustik, lomba poster, dan lomba fotografi. Lomba akustik diadakan di lantai 3 lebih tepatnya di Aula Fikes, sedangkan untuk lomba poster dan lomba fotografi diadakan di lantai 1 gedung Fikes Universitas Muhammadiyah Magelang. Pada lantai 1 juga terdapat pameran foto dari mahasiswa/i program studi ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang.

L2

Lomba akustik diikuti oleh 8 sekolah yang terdiri dari SMA N 3 Magelang, SMA Muhammadiyah Salaman, SMK Muhammadiyah 2 Muntilan, SMK Muhammadiyah 1 Muntilan, SMA N 2 Trenggalek, SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, SMK Muhammadiyah Mungkid, dan SMK Muhammadiyah Kota Magelang. Para peserta lomba akustik diharuskan membawakan dua lagu yaitu lagu daerah dan lagu bebas (pop, rock, RnB, dan lain-lain). Juri lomba akustik yaitu Ahmad Syafi’i, S.Pd, Tuessi Ari Purnomo, ST., M.Tech, dan Muhammad Adnan Luthfi. Juara 1 lomba akustik diraih oleh SMA N 3 Magelang yang membawakan lagu berjudul Lir-ilir dan Bento. Juara 2 yaitu SMA N 2 Trenggalek yang membawakan lagu berjudul Suwe Ora Jamu dan Cantik. Juara 3 yaitu SMA Muhammadiyah Salaman yang membawakan lagu berjudul Rambadia yang dikolaborasi dengan Kampaunan Jauh Di Mato dan Aku Masih Sayang.

L3L4

 

 

 

 

 

 

Khusus untuk lomba fotografi dan lomba poster terdapat sub tema yang akan menjadi pilihan siswa/siswi dalam menciptakan karyanya yaitu jiwa wirausaha, peran wirausaha dalam teknologi, dan kesehatan mental wirausaha. Lomba fotografi diikuti oleh 2 sekolah yaitu SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang yang diwakilkan oleh Rahma Oktaviani dan Harka Dwi Oktafa dan SMA N 6 Yogyakarta yang diwakilkan oleh Afifah Isra Rinda. Juri pada lomba fotografi yaitu Dwi Susanti, S.I.Kom., M.A dan Lintang Muliawanti, S.I.Kom., M.A. Untuk juara 1 lomba fotografi diraih oleh Rahma Oktaviani. Juara 2 lomba fotografi yaitu Afifah Isra Rinda dan Juara 3 diraih oleh Harka Dwi Oktafa.

L5L6

 

 

 

 

 

 

Lomba poster diikuti oleh 3 sekolah yaitu SMA Mutual Kota Magelang yang diwakili oleh Gading Sofyan Hafid, SMK Muhammadiyah 2 Muntilan diwakili oleh David Adi Nugroho, dan SMA N 4 Kota Magelang diwakili oleh Alifia Nur Azizah. Karya dari siswa/siswi ini dinilai oleh juri yaitu Prihatin Dwihantoro, S.Sn., M.I.Kom, Moch. Imron Rosyidi, S.I.K., M.Sc, dan Dr. Hermahayu, M.Si. Psi. Juara 1 lomba poster yaitu Alifia Nur Azizah. Juara 2 lomba poster yaitu Gading Sofyan Hafid dan juara 3 diraih oleh David Adi Nugroho.

L7L8

PEKAN PSIKOLOGI #2

Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang melakukan kegiatan tahunan Pekan Psikologi #2. Pekan Psikologi #2 digelar pada hari Sabtu, 8 Februari 2020 bertempat di Aula Fikes Universitas Muhammadiyah Magelang kampus 2 dengan tema yang diusung adalah “Eksistensi Psikologi Dalam Membentuk Jiwa Wirausaha di Era 4.0”. Acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) yang sudah dimulai sejak tahun 2019. Acara ini bekerja sama dengan berbagai pihak diantaranya Sosro, Hello, SPBU Bandongan, Fotocopy Sumber Rejo, Nagoya, Rumah Bersalin Puri Agung (Dr. Narko), Unima Tirta, Paradise Bali, Kebab Turki, dan Baso Aci Reformasi. Hal yang melatar belakangi diadakannya acara ini yaitu Indonesia telah menapaki era industri 4.0 sehingga masyarakat perlu melakukan antisipasi dan adaptasi untuk mendapatkan peluang. Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan dapat terlahir generasi muda yang berkemajuan, berkompetisi tinggi, dan mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman.

Pekan Psikologi #2 kali ini berisi serangkaian acara yang terdiri dari lomba, konseling, bakti sosial, dan seminar nasional yang akan diadakan di bulan Maret. Lomba yang diadakan terdiri dari lomba akustik, lomba fotografi, dan lomba poster yang diikuti oleh siswa/siswi SMA/SMK/MA Se-derajat Se-Pulau Jawa. Lomba akustik diikuti oleh 8 sekolah yang terdiri dari SMA N 3 Magelang, SMA Muhammadiyah Salaman, SMK Muhammadiyah 2 Muntilan, SMK Muhammadiyah 1 Muntilan, SMA N 2 Trenggalek, SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, SMK Muhammadiyah Mungkid, dan SMK Muhammadiyah Kota Magelang. Para peserta lomba akustik diharuskan membawakan dua lagu yaitu lagu daerah dan lagu bebas (pop, rock, RnB, dan lain-lain). Juara 1 lomba akustik diraih oleh SMA N 3 Magelang yang membawakan lagu berjudul Lir-ilir dan Bento. Juara 2 yaitu SMA N 2 Trenggalek yang membawakan lagu berjudul Suwe Ora Jamu dan Cantik. Juara 3 yaitu SMA Muhammadiyah Salaman yang membawakan lagu berjudul Rambadia yang dikolaborasi dengan Kampaunan Jauh Di Mato dan Aku Masih Sayang.

pk2

Khusus untuk lomba fotografi dan lomba poster terdapat sub tema yang akan menjadi pilihan siswa/siswi dalam menciptakan karyanya yaitu jiwa wirausaha, peran wirausaha dalam teknologi, dan kesehatan mental wirausaha. Lomba fotografi diikuti oleh 2 sekolah yaitu SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang yang diwakilkan oleh Rahma Oktaviani dan Harka Dwi Oktafa dan SMA N 6 Yogyakarta yang diwakilkan oleh Afifah Isra Rinda. Untuk juara 1 lomba fotografi diraih oleh Rahma Oktaviani. Juara 2 lomba fotografi yaitu Afifah Isra Rinda dan Juara 3 diraih oleh Harka Dwi Oktafa.

pk4

Lomba poster diikuti oleh 3 sekolah yaitu SMA Mutual Kota Magelang yang diwakili oleh Gading Sofyan Hafid, SMK Muhammadiyah 2 Muntilan diwakili oleh David Adi Nugroho, dan SMA N 4 Kota Magelang diwakili oleh Alifia Nur Azizah. Juara 1 lomba poster yaitu Alifia Nur Azizah. Juara 2 lomba poster yaitu Gading Sofyan Hafid dan juara 3 diraih oleh David Adi Nugroho.

pk3

Rangkaian acara Pekan Psikologi #2 selanjutnya adalah bakti sosial di panti asuhan Daarul Hikmah yang beralamat di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah yang dilaksanakan pada hari Minggu, 9 Februari 2020. Bakti sosial diisi dengan sambutan dari pengurus panti Daarul Hikmah dan ketua HIMAPSI yang dilanjutkan dengan penyerahan bantuan berupa sembako, alat tulis, dan baju. Tidak lupa disematkan game dan doorprize untuk membuat suasana acara bakti sosial semakin seru. Bakti sosial ditutup dengan doa’a bersama dan foto bersama dengan anak-anak panti. Pekan Psikologi #2 akan ditutup dengan acara seminar nasional dengan tema Recreative dan Psychopreneur yang mana akan diadakan pada tanggal 7 Maret 2020 dan dibuka untuk umum.

pk5

BIOPSIKOLOGI PUASA: HIKMAH PUASA DALAM PROSES AUTOFAGI

Hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran tahun 2016 lalu diberikan pada ilmuwan asal Jepang, Yoshinori Ohsumi yang menemukan mekanisme autophagy (autofagi). Autofagi berasal dari bahasa Yunani, yaitu: auto (sendiri) dan phagein (memakan) sehingga secara etimologis, ia berarti “memakan diri sendiri”. Dalam khazanah biologi sel, autofagi berkenaan dengan bagaimana sel-sel ternyata dapat memakan dirinya sendiri dalam rangka menghancurkan dan mendaur ulang komponen-komponennya. Autofagi adalah mekanisme pembongkaran bagian-bagian sel yang sudah tua (seperti organel-organel sel, protein, dan membran sel) yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup energi untuk mempertahankannya.

NEW DELHI : NOBEL PRIZE FOR MEDICINE. PTI GRAPHICS(PTI10_3_2016_000140B)

Sel yang bisa memakan dirinya sendiri mungkin kedengarannya kejam bagi kita yang masih awam, tetapi di balik itu ada hikmah penciptaan yang luar biasa. Sel-sel tubuh memang diprogram oleh Allah Swt secara alami untuk hancur dan mati demi memelihara kesehatan kita. Jika diibaratkan, sel-sel tubuh itu seperti motor tua. Ketika masih baru, ia begitu prima, tetapi lama-kelamaan mesin-mesinnya menjadi tua dan akhirnya ia tidak bisa dikendarai lagi. Logisnya, apa yang kita lakukan adalah memutuskan menjual saja motor itu ke tukang loak. Uangnya bisa untuk membeli motor baru, sementara di tukang loak, motor itu akan dibongkar dan dicari bagian-bagiannya yang kiranya masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lain.

Seperti itulah autofagi, hanya saja pembongkaran dan daur ulangnya terjadi di level sub-selular. Ketika sel menua, tubuh kita tidak serta-merta mengganti keseluruhannya. Ketimbang membunuh seluruh sel (apoptosis), yang dilakukan tubuh hanyalah mengganti bagian-bagiannya yang rusak saja dan kemudian dibuat organel yang baru untuk menggantikannya. [1][2][3]

Setelah mengetahui cukup banyak tentang apa itu autofagi, pembaca sekalian mungkin mulai bertanya-tanya, apa kaitan mekanisme autofagi ini dengan ibadah puasa yang dijalankan umat Islam selama bulan Ramadan ini? Dan, apa pula relevansinya ini dengan ilmu psikologi yang kita geluti? Jawabannya, autofagi sangat berkaitan dengan puasa kita dan sangat relevan dengan psikologi. Untuk mendapatkan penjelasan lengkapnya, berikut ini kita selidiki lebih detail bagaimana autofagi dapat mendorong kesehatan dan mencegah penyakit dengan puasa sebagai aktivatornya.

Autofagi, Kesehatan, dan Penyakit

Autofagi sangat penting bagi kelangsungan hidup sel dan menjaga sel tetap sehat. Tanpa autofagi, sel-sel tubuh manusia tidak akan bertahan. Autofagi ibarat sistem pembuangan limbah dalam sel, yang tanpanya sampah-sampah akan menumpuk dan mengganggu keberfungsian sel-sel itu. Ini sama seperti jika lingkungan tempat tinggal kita tidak memiliki sistem pembuangan sampah. Sampah jadi ada di mana-mana, mengganggu pemandangan, dan menjadi sumber penyakit.

Lewat pembersihan diri di tingkat sel, autofagi memainkan peran penting dalam pemeliharaan kesehatan tubuh keseluruhan. Berbagai riset membuktikan bahwa autofagi berperan menekan pertumbuhan sel tumor. [3] Riset yang masih berlangsung pun terus menyelidiki bagaimana gangguan atau disfungsi autofagi berkaitan dengan kemunculan kanker, diabetes tipe 2, penyakit-penyakit infeks virus dan bakteri, penyakit-penyakit imunologis (disebabkan oleh penurunan imunitas tubuh), dan penyakit-penyakit neurodegeneratif (disebabkan oleh penurunan fungsi sel saraf) karena proses penuaan, seperti Parkinson dan Alzheimer. [2][3]

Uniknya, autofagi tidak terjadi ketika sel ‘kenyang’ karena banyaknya pasokan nutrien, melainkan ketika ia ‘kelaparan’. Autofagi adalah respon adaptasi sel ketika mengalami stres berupa ‘lapar’. [4] Ketika sel-sel lapar, mereka mengkonsumsi protein-protein yang ada pada diri mereka sendiri untuk mendapatkan bahan bakar untuk energi terus hidup. Protein-protein yang dimakan ini adalah protein-protein dari organ-organ sel yang telah rusak. Dari proses itulah, autofagi mengeliminasi bagian-bagian sel yang rusak dengan hasil akhirnya, sel berkesempatan memperbarui dirinya sendiri dengan membentuk bagian-bagian yang baru. Ini ibarat ketika kita hendak membeli kursi baru untuk mengganti kursi lama di ruang tamu, kursi yang lama perlu disingkirkan dulu agar yang baru punya tempat. Dengan autofagi, homeostatis atau keseimbangan dalam tubuh sel dapat tetap terjaga. [2][3][4]

Selain itu, autofagi juga adalah respon pertahanan sel dari serbuan virus-virus dan bakteri ketika terjadi infeksi. Autofagi menghindarkan sel dari bahaya mikroorganisme asing dengan mengirim virus dan bakteri itu untuk didaur ulang dan mengeliminasinya. Dengan ini, autofagi pun menjadi kunci pengendalian perkembangan penyakit infeksi dalam tubuh. [1][4]

autophagy

Ilustrasi Autofagi Sumber: martinajohansson.se

Puasa Mengaktivasi Autofagi

Sejak mekanisme autofagi ditemukan, mempercepat autofagi pun mulai menjadi metode pencegahan dan penyembuhan berbagai penyakit. Aktivasi autofagi dapat dilakukan dengan mengurangi nutrisi yang diterima sel dengan cara tidak makan alias puasa.

Ketika seseorang makan, hormon insulin yang mengatur metabolisme karbohidrat dalam tubuh akan meningkat, sementara glukagon menurun. Ketika ia berpuasa, yang sebaliknya yang terjadi; insulin menurun, sementara glukagon yang berfungsi meningkatkan kadar gula darah meningkat. Peningkatan glukagon inilah yang menstimulasi proses autofagi yang membersihkan sel dari organ-organnya yang rusak. Sementara itu, apa yang bisa mematikan proses autofagi? Makan. Pasokan gula dan protein yang berlebihan membuat pembersihan diri terhambat. Hal ini terbukti, misalnya pada tubuh penderita penyakit Alzheimer dan kanker, terdapat akumulasi atau penumpukan protein abnormal yang lama tidak dibersihkan. Jika autofagi berlangsung dengan normal, maka penumpukan ini tidak terjadi dan seseorang pun dapat tercegah dari penyakit-penyakit tersebut. [5]

Meski tidak makan dan lapar penting bagi kelangsungan proses autofagi, ada hal yang harus diperhatikan. Autofagi adalah proses yang diatur dengan sangat hati-hati oleh tubuh. Autofagi yang tak terkontrol dan berlangsung berlebihan karena seseorang lapar berkepanjangan (misal karena diet yang terlalu ketat atau tidak makan sama sekali) sama buruknya dengan autofagi yang melemah karena kenyang berkepanjangan (karena terus-menerus makan dan mengkonsumsi pangan tinggi karbohidrat dan protein). [5]

Hidup ini soal keseimbangan, autofagi pun demikian. Tidak boleh kekurangan, tidak boleh kebanyakan. Para dokter di Barat, berdasarkan pengetahuan ini kini menyarankan agar orang-orang yang ingin sehat dengan sekali-kali melewatkan makan (skipping meal) atau berpuasa secara berselang hari (intermitten fasting). Ini tidak hanya meningkatkan proses autofagi, tetapi juga meningkatkan fungsi kognitif yang membuat seseorang lebih mudah belajar, serta banyak manfaat lainnya. [6] Dokter-dokter tersebut pun mensyariatkan (baca: menggariskan pedoman), berpuasa versi mereka sebagai bagian dari program detoks, yakni sekali atau dua kali seminggu dengan lama waktu 12-36 jam meninggalkan makan dan bersamaan dengan itu mengkonsumsi banyak air putih. [7]

puasa

Hikmah Ibadah Puasa

Berpuasa adalah salah satu rukun Islam yang telah diketahui luas hikmah dan manfaatnya baik lewat dalil-dalil naqli maupun riset-riset ilmiah. Sebagai salah satu ibadah yang sangat jelas syariatnya dalam agama, puasa telah dilakukan oleh umat Islam sejak waktu yang sangat lama, bahkan sebelum ilmu pengetahuan mengungkap hikmah-hikmah kesehatan puasa. Lewat berbagai penelitian yang panjang dan intensif, kini kita semakin menyadari tingginya nilai ibadah puasa terutama bagi kesehatan badan. Berdasarkan itu, benarlah apa yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad Saw, “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” (HR Thabrani) Hal ini tentu semakin memperkuat keyakinan kita kepada agama kita dan meningkatkan motivasi kita untuk memelihara puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Penelitian biologi sel mengungkap manfaat puasa lewat penyelidikan tentang apa yang terjadi pada tubuh manusia sampai ke tingkat sel ketika ia kekurangan nutrien karena tidak makan atau berpuasa. Lewat mekanisme autofagi, sel membersihkan dan memperbarui dirinya sendiri, serta melindungi dirinya dari serbuan virus dan bakteri yang bisa menimbulkan infeksi. Meski begitu, autofagi yang optimal adalah yang tidak terjadi secara ekstrem. Artinya, seseorang tidak boleh kelaparan atau sama sekali tidak makan sehingga proses autofaginya berlebihan tidak terkendali, tidak boleh pula terlalu banyak dan selalu kenyang sehingga mematikan proses autofagi.

Temuan tersebut mendukung ketepatan ajaran atau syariat Islam terkait bagaimana berpuasa yang benar, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist larangan berlebih-lebihan dalam ibadah, termasuk puasa:

Beberapa orang dari para sahabat datang ke rumah Rasulullah Saw menanyakan kepada istri beliau tentang ibadah beliau. … Salah seorang di antara mereka mengatakan, “Aku bertekad akan melakukan shalat selamanya.” Seorang yang lain menyahut, “Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka.” Seorang lainnya menyambung, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Lalu Rasul datang, “Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka. Aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk di antara umatku.” (HR Bukhari)

Temuan autofagi mencerahkan kita tentang biopsikologi puasa dan perannya mencegah penyakit-penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif, penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan memproses informasi, serta mempengaruhi perilaku, terutama pada lansia. Inilah yang menjadikan puasa alternatif terapi yang sangat baik untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut.

Meski demikian, ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam menyikapi temuan tentang hubungan autofagi, kesehatan tubuh, dan puasa tersebut.

Pertama, perbandingan puasa yang ‘disyariatkan’ dokter di Barat berdasarkan fakta ilmiah tersebut (12-36 jam tanpa makan, dan bersama itu perbanyak minum air) dan puasa dalam Islam (menahan makan, minum, dan semua yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, hanya sekitar 8-21 jam per harinya di negara-negara di seluruh dunia). Hal yang membedakan, puasa yang disyariatkan Islam lebih ringan, bisa dilakukan semua orang di mana saja termasuk anak-anak yang masih belajar puasa, dan tidak mengganggu aktivitas kehidupan yang lain.

Kedua, di Barat terutama, puasa dipromosikan sebagai bagian dari terapi kesehatan sehingga yang melakukannya hanyalah orang-orang yang takut sakit atau ingin sembuh dari sakit. Hal-hal hanya berfokus di seputar kesejahteraan fisik diri sendiri (self-centric) dan tidak memiliki nilai yang lebih dari itu. Dalam Islam, puasa tidak hanya menyangkut persoalan fisik, lapar dan haus karena tidak makan dan minum. Puasa adalah ibadah berpahala yang kebaikannya meliputi dimensi kehidupan yang sangat luas, baik fisik/ material, sosial, psikologis, maupun spiritual. Seseorang bahkan dikecam jika puasanya hanya mendapatkan haus dan lapar.

Pengendalian diri yang dikehendaki ketika beribadah puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan dorongan nafsu dan menjaga keseluruhan amal perbuatan. Ibadah puasa lantas adalah instrumen yang tidak hanya berguna untuk menyehatkan fisik, tetapi juga menyehatkan hubungan dengan sesama manusia dan menyehatkan ruhani. Semoga kita senantiasa mendapatkan kebaikan yang sempurna dari ibadah puasa yang kita lakukan.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi

[1] Woollaston, V. (2016, Oktober). How autophagy could lead to a cure for cancer and spell the end or diabetes. http://www.wired.co.uk/article/autophagy-cells-explained.

[2] Sedwick, C. (2012). Yoshinori Ohsumi: Autophagy from beginning to end. Journal of Cell Biology, 192(2), 164-165. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3328387/

[3] Van Noorden, R., & Ledford, H. (2016). Medical award for cell recycling. Nature, 538, 18-19. doi: 10.1038/nature.2016.20721

[4] Larsson, N-G., & Masucci, M. G. (2016). Scientific background discoveries of mechanisms for autophagy. https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/2016/advanced-medicineprize2016.pdf

[5] Fung, J. (2016). How to renew your body: Fasting and autophagy. https://www.dietdoctor.com/renew-body-fasting-autophagy

[6] Stipp, D. (2013). How intermittent fasting might help you live a longer and healthier life. https://www.scientificamerican.com/article/how-intermittent-fasting-might-help-you-live-longer-healthier-life/

[7] English, N. (2016). Autophagy: The real way to cleanse your body. https://greatist.com/live/autophagy-fasting-exercise

Penulis Aftina Nurul Husna, dosen muda di Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Magelang. Email: anhusna@ummgl.ac.id